Pages

Senin, 03 Januari 2011

Lirik-lirik Sapardi Djoko Damono

SAJAK KECIL TENTANG CINTA

mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu harus menjadi aku

PADA SUATU HARI NANTI

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari

NOKTURNO

KUBIARKAN CAHAYA BINTANG MEMILIKIMU
KUBIARKAN ANGIN YANG PUCAT
DAN TAK HABIS-HABISNYA
GELISAH

TIBA-TIBA MENJELMA ISYARAT, MEREBUTMU
ENTAH KAPAN KAU BISA KUTANGKAP…

KETIKA JARI-JARI BUNGA TERLUKA

Ketika Jari-jari bunga terluka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata

suatu pagi, di sayap kupu-kupu
disayap warna, suara burung
di ranting-ranting cuaca
bulu-bulu cahaya
betapa parah cinta kita
mabuk berjalan diantara
jerit bunga-bunga rekah…

Ketika Jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata

HUTAN KELABU

kau pun kekasihku
langit di mana berakhir setiap pandangan
bermula kepedihan rindu itu
temaram kepadaku semata
memutih dari seribu warna
hujan senandung dalam hutan
lalu kelabu menabuh nyanyian

HUJAN BULAN JUNI

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

HATIKU SELEMBAR DAUN

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

GADIS KECIL

Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang,ada pohon
dan seekor burung…

DALAM DIRIKU

dalam diriku mengalir
sungai panjang
darah namanya…

dalam diriku menggenang
telaga darah
sukma namanya…

dalam diriku meriak
gelombang suara
hidup namanya…

dan karena hidup itu indah
aku menangis sepuas-puasnya…

DALAM BIS

langit di kaca jendela bergoyang
terarah ke mana wajah di kaca jendela
yang dahulu juga
mengecil dalam pesona

sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat
waktu henti ia tiada…

BUAT NING

pasti datangkah semua yang ditunggu
detik-detik berjajar pada mistar yang panjang
barangkali tanpa salam terlebih dahulu

januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember…
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Jumat, 18 Juni 2010

Gigi palsu buat nenek

Oleh : Rizki Indra

Dinda gadis kecil kelas 3 yang bersekolah di SD tunas bangsa adalah gadis kecil yang cantik dan lucu selain itu dia juga sangat menyayangi ibu, bapak, kakak serta neneknya, teman-temanya pun sangat suka dengan dia karena dinda adalah orang yang ramah, dia dikenal cerdas di sekolah dan selalu mendapatkan rangking 3 besar, guru-gurunya pun sangat menyayanginya. Beberapa minggu ini dinda merasa kasian kepada neneknya karena neneknya tidak mempunyai gigi, selain itu dia merasa neneknya pasti bosan makan bubur terus yang disiapin ibu dinda tiap makan pagi, siang maupun malam, “kasian sekali nenek tidak bisa makan apel” fikirnya. Dinda sering bertanya pada ibunya “kenapa sih bu nenek tidak punya gigi ?” kata-kata itulah yang selalu muncul di mulut kecilnya setiap hari saat makan bersama keluarganya, nenek yang sering mendengar perkataan dinda pun hanya tersenyum, setiap selesai sholatpun dinda selalu berdoa kepada Allah agar gigi neneknya tumbuh lagi, terkadang hal itulah yang membuat keluarganya geli dan semakin sayang padanya.
Kebetulan dinda sekolah di SD tunas bangsa yang bersebelahan dengan klinik gigi, sehingga tiap pulang sekolah dinda sering melihat orang-orang keluar masuk di klinik tersebut, “mungkin di sini bisa beli gigi buat nenek” ide itulah yang selalu muncul di pikiran dinda ketika melewati depan klinik tersebut. Akhirnya dinda berencana besok siang setelah pulang sekolah dia ingin ke klinik tersebut, kebetulan besok di sekolah nya ada rapat guru jadi bisa pulang lebih cepat, esok hari yang dinanti tiba dinda terlihat agak tegang selama di rumah dan di sekolah karena terus memikirkan rencananya siang nanti. TENG...TENG...TENG bunyi bel sekolah tanda pelajaran telah selesai berbunyi lebih cepat karena akan ada rapat guru jam 9 nanti. Dinda pun langsung bergegas keluar tak memperdulikan temannya yang mengajak ngobrol, gadis kecil itu menemui pak parjo tukang becak langganan yang tiap bulan diberi uang oleh ibunya untuk mengantar jemput dia sekolah. “ tunggu bentar ya pak saya mau ke tempat itu” tangan kecilnya menunjuk bangunan berwarna putih. “ya, neng” jawab pak parjo sambil tersenyum. Kemudian dinda berlari kecil ke klinik tersebut hingga sampai di depan pintu klinik. “Pintu ini kok aneh ngak seperti di rumah bukanya gimana ya?” fikirnya kemudian dia mengetuk-ketuk yang dia angap sebagai pintu tersebut. Kemudian dari dalam kelihatan kakak berbaju putih sedang berjalan menghampirinya. Tiba-tiba kakak yang berwajah manis itu sudah berjongkok untuk berbicara dengan dinda, “kenapa adik, kok ketuk-ketuk jendela” ujarnya pelan. “ohh, ini jendela ya kak, kirain pintu” ujarnya sambil garuk-garuk kepala, kemudian berucap lagi “ anu kak, nenek ku kan ngak punya gigi, apa aku bisa beli gigi buat neneku disini?’ ujarnya, kemudian kakak tersebut menjawab sambil tersenyum kecil mungkin karena meliat gadis lucu didepanya, “ ya dik, disini tempat untuk perawatan gigi kalau gigi sakit bisa kesini terus bisa juga buat gigi palsu, buatin gigi palsu buat neneknya adik juga bisa”, kemudian dinda tampak senang mendengar jawaban kakak tersebut kemudian dinda mengucapkan terima kasih dan segera berjalan ke pak parjo yang sedang menunggunya di depan sekolah “ah, aku akan menabung buat beli gigi nenek” fikirnya dengan hati senang.
Seminggu sudah berlalu dinda kini memegang uang sebanyak 16 ribu, hasil dia menabung selama seminggu uang jajanya yang diberi ibu 3rb setiap hari. Hari ini pulang sekolah dinda berencana beli gigi buat neneknya, seperti biasa dia menyuruh pak parjo menunggunya sebentar, kemudian dia berjalan ke klinik tersebut. Kali ini dia bisa masuk karena berbarengan dengan bapak-bapak yang keluar sambil membuka pintu. Kemudian dia menuju ke kakak yang dia ketemu minggu kemarin. “kak, aku mau beli gigi buat neneku” sambil menyodorkan uang ribuan kucel yang terlipat dengan rapi. Kakak tersebut heran kemudian berkata “ adik, kalau kesini ajak ibunya, ya” . “kenapa kak “ jawab dinda, “kalau kesini ajak ibunya biar ntar kakak jelasin ama ibunya”. “Kenapa-kenapa??” jawab dinda memaksa, “anu, dik disini kalau bikin gigi butuh uang yang tidak sedikit” jawabnya pelan “berarti uang dinda tidak cukup ?” , “bukanya tidak cukup tapi kalau kesini ajak ibunya ya”, kakak tersebut menjawab kemudian dia mengantar dinda keluar klinik dan tak lupa dinda mengucapkan terima kasih.
Dinda terlihat ingin menangis dan membuat pak parjo yang mengantarnya pulang pun bingung. Sampai dirumah dinda terlihat sangat sedih sekali dan murung sehngga membuat keluarganya kebingungan, saat makan malam pun dinda masih murung dikamarnya kemudian bapak menyuruh ibu untuk membujuk dinda makan malam. Ibu pun masuk ke kamar dinda dan membujuknya untuk makan malam, ternyata dinda sedang menagis tersedu-sedu. Ibunya pun berkata, “dinda kenapa? Kok nangis” dinda pun tidak menjawab, “ayo sayang ceritain ama ibu” kemudian dinda pun bercerita kepada ibunya sambil menangis, setelah mendengar cerita dinda ibunya pun menagis karena bidadari kecilnya punya pikiran seperti itu yang membuat haru batinnya sebagai ibu yang membesarkan dan mengandungnya selama 9 bulan. Kemudian ibu berkata “ ya udah dinda, besok ibu ama nenek ke klinik sebelah sekolahmu sekalian menjemput kamu sekolah ya”. “bener bu ? ibu mau beliin gigi buat nenek ? jadi nenek bisa maem apel ? jadi nenek tidak kasian lagi? Tanya dinda tanpa henti. “Iya, sayang” jawab ibu nya. Kemudian raut muka dinda terlihat senang dan kemudian memeluk ibunya, ibunya membalas pelukan dinda bidadari hatinya yang sangat dia sayangi sambil menangis bahagia.

Kamis, 17 Juni 2010

Rio Si Detektif Cilik

OLEH: Siti Maryam

Pemulung itu aneh, dia tidak seperti pemulung biasanya. Beberapa minggu ini Rio selalu bertemu pemulung itu pada saat pergi les awalnya Rio tidak merasa aneh, tapi makin sering dia bertemu, Rio semakin menyadari kalau pemulung itu tidak seperti pemulung biasanya ada beberapa hal yang janggal.
”Benar Ma, pemulung itu tidak tertarik pada sampah botol atau pun lainnya yang berserakan di jalan dan dia hanya tertarik pada satu tempat sampah yang berada di depan rumah besar di dekat lapangan kosong itu, selalu tempat yang sama dan dia selalu hanya mengambil sebuah bungkusan kecil bukan sampah lainnya,” Rio menjelaskan kecurigaannya pada Mamanya.
Mama Rio tersenyum mendengar cerita anaknya,
”Ah kamu seperti detektif saja, Rio. Jangan terlalu mencurigai orang lain,” kata Mama sambil meniriskan ikan yang barusan digoreng, kemudian ditaruh di atas piring.
”Nah lebih baik kamu bantu Mama taruh piring ini di meja makan,” kata Mama menyerahkan piring ikan goreng.
”Huhh...Mama ini selalu tidak percaya sama Rio,” sungut Rio sambil membawa piring ke meja makan.
Mama hanya tertawa.
***
Esok harinya, hari Sabtu Rio bertekad untuk memastikan kecurigaannya kalau pemulung itu memang hanya tertarik pada satu bak sampah itu saja. Hari ini Rio tidak les, jadi dia bisa memperhatikan pemulung itu lebih seksama. Rio menunggu di dekat bak sampah yang pemulung itu biasa hampiri. Ia berlagak seperti menunggu seseorang agar tidak dicurigai oleh pemulung itu, hari sudah semakin siang sudah hampir jam 2 kurang 15 menit lagi, biasanya Rio berpapasan saat jam segini. Rio sengaja datang lebih awal dari biasanya, ia menunggu dengan sabar, terkadang ia pura-pura melihat jam tangannya dan pura-pura mengecek HP-nya agar terkesan sedang menunggu orang.
Tiba-tiba orang dari rumah besar itu keluar dan membuang sebuah bungkusan kecil, Rio tidak terlalu memperhatikannya, paling hanya membuang sampah biasa, dan ia masih menunggu pemulung itu lewat. Akhirnya pemulung itu terlihat juga, Rio berusaha tidak terlalu memandangi pemulung itu, ia terus berdiri sambil melihat kejauhan dan sambil mencuri-curi pandang. Seperti kecurigaan Rio, pemulung itu tidak tertarik pada bak sampah lain, pemulung itu dengan santai melewati beberapa bak sampah di depan beberapa rumah dan terus berjalan ke arah bak sampah di depan rumah besar itu. Pemulung itu berpas-pasan dengan Rio, tapi pemulung itu tidak memperdulikan Rio dan terus berjalan. Rio tetap mencuri-curi pandang dengan hati-hati agar pemulung itu tidak curiga.
Saat pemulung itu dekat dengan bak sampah itu, Rio berpura-pura menjatuhkan uang sehingga ia bisa berpura-pura menghadap ke pemulung itu sembari memungut uang. Pemulung itu langsung menatap bak sampah itu dan dengan enteng mengambil bungkusan kecil seperti biasanya, hmm...tapi Rio merasa ada yang terlewatkan, hei bungkusan itukan baru saja dibuang oleh penghuni rumah besar itu? Mungkinkah mereka saling terkait? Rio tidak berani bertindak lebih jauh. Dia memutuskan untuk menceritakan pada pamannya yang seorang Polisi. Rio kemudian menunggu pemulung itu lewat sampai menghilang dari pandangan baru ia pulang ke rumah.
***
Rio menunggu sore hari saat pamannya pulang kerja baru meneleponnya, soalnya kalau jam kerja pamannya biasa sangat sibuk.
“Hallo paman? Ini Rio,” sapa Rio.
“Oh Rio, ada apa ini? Tumben kamu telepon paman,” sapa paman Rio yang bernama Susno. Rio kemudian menceritakan pengalamannya, mulai dari pemulung itu sampai bungkusan kecil yang ternyata berasal dari rumah besar itu.
“Hmm...ini menarik sekali, kamu yakin kalau pemulung itu hanya mengambil barang yang dibuang oleh rumah itu?” tanya Paman Susno memastikan.
“Aku baru sekali melihat penghuni rumah itu membuang bungkusan itu, tapi aku yakin kalau itu adalah bungkusan yang sama setiap kali aku melihatnya,” Rio menjelaskan.
“Baiklah, Paman akan memeriksa lebih lanjut. Kamu jangan bertindak lebih jauh, serahkan semua pada kepolisian.“ kata Paman Susno menasehati.
“Baik paman,” kata Rio.
***
Satu minggu berlalu tidak ada berita dari paman Susno, Rio baru saja pulang dari sekolah, perutnya sudah minta diisi. Rio mempercepat langkahnya menuju rumah. Di depan rumah dia melihat ada motor paman Susno dan sebuah mobil dari kepolisian.
“Ada apa nih?” Rio berpikir, dia kemudian masuk ke dalam rumah menemui Mamanya sedang berbincang-bincang dengan paman Susno dan dua orang polisi lainnya.
“Nah ini dia detektif cilik kita, selamat datang!,” sambut paman Susno.
Rio kebingungan.
“Rio, info yang kamu berikan telah membantu kepolisian bahkan masyarakat untuk memerangi Narkoba. Ingat tentang pemulung yang kamu bicarakan minggu lalu?” paman Susno berusaha menjelaskan situasi pada Rio.
Rio hanya mengangguk, tapi masih belum tahu maksud pamannya.
“Dia adalah kurir dari sebuah bandar narkoba, dan akhirnya dari sana kepolisian berhasil menggulung bandar narkobanya. Kamu tahu rumah besar itu adalah pabrik narkoba,” jelas paman Susno. Rio mulai menangkap apa maksud paman Susno, dia memang menduga ada yang aneh dari pemulung itu, tapi bandar narkoba? Rio tidak pernah berpikir sampai ke sana.
“Selamat Rio, ini ada ucapan terima kasih dari kepolisian dan secara tidak langsung kamu membantu masyarakat sekitar dalam menjaga lingkungannya, karena berkat kejelianmu sebuah pabrik narkoba berhasil kita gulung, dan banyak orang yang terselamatkan dari bahaya narkoba,” ucap Polisi yang satunya bersama dengan paman Susno sambil menyerahkan ijazah khusus partisipasi Rio juga sebuah tabungan pendidikan untuk Rio.
Rio menerima hadiah itu dengan bangga. Paman Susno bersama polisi yang lainnya menyalami Rio, Mama juga bangga pada Rio. Rio berjanji dia akan selalu menjaga lingkungannya dan kalau melihat sesuatu yang mencurigakan akan segera dia laporkan pada pamannya, eh Polisi maksudnya. Kalian juga kan?

Prambanan, Candi Seribu Cerita

OLEH: Kusworo Aris Prasetyo

Siang ini udara terasa menyesakkan dada, debu-debu berterbangan menambah rasa kekecewaan seorang anak usia 11 tahun yang sedari tadi berjalan menuju rumah usai melewatkan sekolah. Secara tergesa-gesa ia berjalan dan akhirnya sampai juga di rumah. Langsung saja ia masuk ke dalam dan langsung menuangkan air mineral kedalam gelas dan habislah dengan sekali teguk olehnya dan kemudian ia menuangnya kembali, memang hari ini begitu panas rasanya. Belumlah sempat ia kembali meneguk, tiba-tiba seseorang menegurnya dari belakang,
“Wah wah wah,,,anak Ibu sudah pulang tho...kok gak dengar suaranya.”
“Iya Bu, maaf tadi doni nyelonong masuk dan langsung minum, soalnya doni haus banget dari pulang sekolah tadi” jawab Doni.
“hmm, baju kamu sampai basah kena air tuh gara-gara minum tergesa-gesa.”
“Ya sudah sekarang kamu ganti baju, terus ambil air wudhu dan shalat, sudah waktunya shalat dzuhur, setelah itu kamu makan, ibu sudah masak masakan kesukaan kamu”.
Kemudian setelah ia selesai shalat, kemudian ia bergegas ke dapur untuk makan. Sebelum makan tak lupa ia berdoa terlebih dahulu, kemudian dilahapnya sambal kentang dan perkedel yang merupakan makanan favoritnya itu.
“Bagaimana tadi sekolahnya Don?” terdengar suara seseorang yang sepertinya sudah tidak asing lagi untuk doni.
“Eh Om Pras, kapan datang dari Semarang”?
“Tadi Pagi Don, wah keponakan Om ini ternyata sudah besar yah, padahal baru kemaren om gendong-gendong kamu”.
“Ah Om ini kan sekarang Doni sudah kelas 5 SD.”
“Sudah dapat kabar belum dari ayahmu Don?”
“Sudah om, minggu kemarin Bapak kirim telegram, bapak sekarang pindah tugas di Ambon.”
“Kasihan kamu Don punya bapak seorang tentara, jadi jarang bertemu”.
“Tapi Doni bangga tuh Om, kan Bapak menjalankan tugas Negara dan buat kemanusiaan juga.”
“Ya, ya, ya, benar juga, hebat kamu Don sudah mengerti tugas sebagai tentara”
“Ya kan Ibu sering cerita dan Doni juga dapat info dari berita di TV Om, hehehe…
“Yasudah berhubung Om lagi ambil cuti tiga hari ini, bagaimana kalau besok kita jalan-jalan ke Candi Prambanan?”
“mau Om, Doni mau banget tapi Doni ajak teman Doni yah Om, si Adit.”
“Ya boleh ajak saja tapi harus minta ijin dulu sama orang tuanya.”
“Siap Om, laksanakan”. Hehehe. Seru doni layaknya seorang tentara.
Om Pras pun tersenyum dengan tingkah laku keponakannya yang berumur 11 tahun ini.
“Kamu sudah makan Pras?” Sapa Ibu Doni dari belakang.
“Oh Sudah mbak, ini lagi ngobrol-ngobrol sama doni, saya mau mengajaknya ke Prambanan besok.
“Ibu kok gak bilang kalo Om Pras ada di rumah?”
“Iya Ibu kan belum sempat kasih tau kamu, orang kamu dari tadi sibuk sendiri”
“Yah Ibu, lain kali bilang dong.” Yaudah, Doni main ke rumah adit dulu yah, mau ngajak adit ikut jalan-jalan sama Om Pras.”
“Ya sudah hati-hati, jangan pulang terlalu sore yah Don.”
“Iya Bu.”
Kemudian bergegaslah ia ke rumah Adit yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Adit adalah teman bermain Doni sejak kecil dan juga merupakan teman sebangku di kelas.
“Siang Bu, Aditnya ada?”
“Ada Don, masuk aja dia ada di kamarnya”
Setelah berada di kamar adit, doni pun kemudian mengajak adit ikut bersamanya ke Prambanan besok.
“Aku mau ikut Don, tapi minta ijin dulu yah ma ibu.”
“Iya dit.”
Kemudian adit menghampiri ibunya dan doni mengikuti dari belakang. Doni kemudian meminta ijin kepada Ibunya Adit untuk mengajaknya pergi ke Prambanan Besok.
“Kamu mau ke Prambanan Cuma berdua Don, nanti nyasar lagi?”
“Enggak kok Bu, ada Om Pras juga.”
“Lho Om Pras ada di rumah tho Don?”
“Ada Bu baru tadi pagi datang dan kebetulan sedang ambil cuti.”
“Oh yasudah kalau begitu Ibu ijinin adit buat ikut kamu.”
“Terimakasih ya Bu, besok Doni dan Om Pras jemput adit jam 9 pagi yah Bu.”
“Iya.”
Kemudian Doni pamit pulang dan menyalami tangan Ibu adit.
“sampai ketemu besok yah Don”
“iya Dit”.
………….
Keesokan harinya tepat jam 9 mobil yang dikendarai Om Pras sampai di rumah Adit. Tampak Adit sudah di teras depan bersama Ibunya.
Pagi Bu, apa kabar?sapa Om Pras
Sehat Pras. Saya titip Adit yah Pras
Iya Bu.
Adit, kamu jangan ngerepotin Om Pras yah dan jangan minta yang aneh-aneh
Iya Bu.
Ya sudah kalau begitu saya pamit ya Bu.
Kemudian mereka berangkat menuju Prambanan yang hanya berjarak sekitar 30 menit dari rumah.
Wah sudah sampai Prambanan.
Terlihat oleh Doni dan Adit bangunan megah nan cantik.
“Ayo Don, Dit.” Teriak Om Pras
“Bagus sekali Candi ini Om, orang-orang jaman dulu ternyata sudah pintar membuat candi yah Om?tanya Adit.”
“Ya benar itu Dit, sebenarnya bangsa kita itu pintar dan kuat asal bisa bersatu.
Om, Candi Prambanan ini gunanya buat apa yah Om?Tanya Doni.”
“Candi ini mulanya di bangun untuk tempat peribadatan agama Hindu Don, lihat arca patung-patungnya kebanyakan merupakan Dewa. Mulai dari Candi Wisnu, Syiwa, Brahma, mereka semua merupakan Dewanya agama Hindu dan candi ini dijadikan sebagai tempat pemujaaan bagi mereka. Kalau sekarang kan bisa dijadikan objek wisata Don, tetapi ketika Nyepi biasanya ada upacara keagamaan disini.”
Terus mereka bertiga berjalan mengitari Candi. Doni dan Adit sepertinya terkesima dengan bangunan yang unik, dinding yang tidak lazim dan ternyata ada gambarnya atau ukirannya. Adit pun lalu bertanya pada Doni.
“Don, kamu tau isi gambar yang diukir ini gak?”
“Yang pasti itu bukan gambar saya Dit, hehehehe.” Ya gak tau lah Dit, taunya tuh Cuma gambar orang ada laki-laki ada perempuan. Kamu tanya sama Om Pras aja.”
“Om kok dindingnya ada gambar orang-orang gitu, maksudnya apa yah Om?” Tanya Adit.
“Oh, itu ukiran namanya relief, yang kata orang merupakan ukiran gambar yang isinya menceritakan tentang cerita Ramayana, kamu tau cerita Ramayana Dit?”
Adit menggeleng tanda ia sama sekali tidak tahu.
“Ramayana?yang ada Hanomannya itu yah Om?”sergah Doni.
“Iya, pintar kamu Don, tau darimana?”
“Dari Bapak, soalnya bapak sering nyeritain tentang kera putih yang sangat sakti. Bapak kan orangnya senang nonton wayang, sampai-sampai dulu Doni kalau mau tidur didongengin cerita itu terus …”
Serentak Om Pras dan Adit tertawa mendengar perkataan Doni yang lugu barusan.
Cukup lama mereka mengitari Candi Prambanan. Sembari berjalan Om Pras selalu menceritakan tentang berbagai hal tentang candi Prambanan seperti menceritakan patung ganesha yang merupakan lambang dari dewa ilmu pengetahuan, terus sampai patung Roro Jonggrang yang terkenal karena cerita rakyatnya yang menceritakan bahwa Roro Jonggrang terkena kutukan oleh Bandung Bondowoso dan menjadi Patung pelengkap seribu candi di Prambanan ini.
Setelah Puas berkeliling Candi, Om Pras pun mengajak doni dan adit untuk makan siang disalah satu rumah makan yang terdapat di sekitar candi Prambanan. Mereka bertiga kemudian makan dengan lahapnya, maklum mengelilingi Candi berukuran besar dan luas tadi benar-benar menguras tenaga mereka. Setelah selesai makan, Om Pras pun bertanya kepada Doni dan Adit.
“Bagaimana nih perasaan kalian setelah jalan-jalan ke Candi Prambanan bareng Om hari ini?”
“Seru Om….!”jawab Doni dan Adit bersamaan.
“Iya Om ternyata bangsa kita memiliki banyak kebudayaan salah satunya Candi Prambanan ini.” Sambung Adit.
“Selain itu kita banyak mendapat pengetahuan dari fungsi candi, isi candi, patung-patungnya. Pokoknya seru lah Om. Kapan-kapan ajak kita jalan-jalan lagi yah Om, Sambung Doni.”
“Iya nanti kalau ada waktu lagi Om ajak kalian berdua jalan-jalan lagi sama Om.
Ya sudah sekarang kita Pulang yuk.” Ajak Om pras.
“Ayo pulang…!teriak doni dan adit penuh semangat.
Kemudian mereka Pulang dengan membawa kenangan dan beragam cerita dalam hati mereka sendiri. Sepertinya mereka benar-benar menikmati acara jalan-jalan kali ini dan terbersit dalam hati masing-masing akan keindahan dan keaneka ragaman kebudayaan negeri tercinta ini.

BAJU MERAH MUDA BUATAN BUNDA

OLEH: Ismiyati

Suatu ketika, bunda sedang menjahit pakaian anak. Modelnya sangat lucu, dan berwarna merah jambu, pasti akan sangat cocok apabila dipakai sesa.
Sesa bertanya kepada bunda:
“Bunda, baju siapa yang bunda jahit?” Lucu sekali. Buatkan sesa baju seperti itu Bunda.”
“ Nanti sayang, nanti akan bunda buatkan sama seperti ini.”
Sesa termenung sedikit kecewa dengan jawaban bundanya. Perlahan dia jalan menuju kamarnya. Dalam hati Sesa sangat ingin mengenakan baju yang dibuat bunda, tapi mengapa bunda tidak mengerti keinginan Sesa. Sesa pun kembali termenung. Bunda kemudian menyusul ke kamar Sesa. Bunda mendekati Sesa, kemudian bunda berbicara pada Sesa.
“Sayang jangan sedih, nanti cantiknya hilang.”
“Sesa mau baju itu bunda, baju itu bagus sekali. Kenapa bunda tidak membuatkan untuk Sesa? Apa bunda tidak sayang kepada Sesa? Bunda membuat baju itu untuk orang lain?”
Dengan kepolosannya, Sesa mengira baju anak yang dibuat bunda adalah untuk anak lain.
Sesa tahu bunda adalah penjahit yang ulet, penjahit yang selalu melayani pelangannya dengan sepenuh jiwa bunda. Memenuhi keinginan para pelanggan yang menjahitkan baju ke tempat bunda dengan beraneka macam model, baik model yang simple maupun model yang susah. Yang Sesa ketahui, selama ini bunda menjahit baju- baju orang dewasa, karena memang jarang sekali ada jahitan anak kecil, jadi ketika Sesa mengetahui bunda menjahit pakaian anak, Sesa langsung berpikiran bahwa baju yang dibuat bunda adalah untuk Sesa.
Bunda dan Sesa hanyalah keluarga kecil yang tetap berusaha untuk hidup penuh ketentraman dan berbahagia. Ayah Sesa meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan motor, saat hendak berangkat kerja. Bunda dengan segenap jiwa dan sepenuh hati berusaha dan berjuang untuk membesarkan sesa seorang diri. Banyak sekali tawaran-tawaran kepada bunda untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih dari pada menjahit, tetapi tawaran itu selalu ditolak oleh bunda. Bunda menganggap bahwa pekerjaan bunda yang sesungguhnya adalah menjahit. Bunda sudah lama menggeluti pekerjaan ini. Sudah banyak pelanggan yang datang, dan bunda yakin bahwa rizki setiap orang sudah ada yang mengatur. Bunda percaya akan kebesaran Allah.
Hari ini adalah hari pengumuman lomba menggambar tingkat Provinsi yang diadakan oleh pemerintah Kota seminggu yang lalu. Sesa mengikuti lomba mewarnai tersebut. Sesa memang mempunyai kegemaran menggambar dan mewarnai. Sesa sering kali mengikuti acara-acara lomba menggambar dan mewarnai tetapi belum sekalipun menjadi Juara Umum. Sesa hanya beberapa kali menjadi juara satu tetapi tingkat kabupaten dan juara-juara harapan yang lainnya. Harapan bunda begitu besar ketika Sesa mengikuti lomba menggambar tingkat provinsi kemaren. Disamping akan menambah jumlah piala koleksi Sesa, juga akan mendapatkan uang pembinaan yang nantinya akan menambah uang tabungan Sesa dan itu akan memacu sesa untuk lebih giat dan lebih terampil nantinya.
Pagi-pagi sekali bunda membeli Koran. Sesa masih tertidur lelap di kamar. Bunda sangat berharap Sesa menjadi yang terbaik dalam lomba tingkat provinsi kemarin. Dengan tergesa-gesa bunda membuka lembaran demi lembaran Koran. Bunda mencari daftar nama-nama pemenang lomba menggambar yang juga diikuti Sesa. Hati bunda begitu berdetak kencang, mata bunda terhentak kaget tak percaya, bundapun tak kuasa menahan tangis. Dalam sujud syukurnya, bunda menangis, bunda tak percaya akhirnya Sesa mendapatkan kemenangan. Bundapun memeluk Sesa dengan penuh kebanggaa yang tak terkira bahagianya. Sesa terbangun, Sesa sangat kaget melihat bunda memeluk Sesa sambil menangis.
Sesa bertanya kepada bunda:
“ Bunda, mengapa bunda menangis? Sesa bangunnya kesiangan ya bunda?”
Bundapun menjadi tersenyum bahagia, sangat bahagia. Kemudian bunda menjawab:
“Tidak sayang, kamu tidak bangun kesiangan. Kamu masih tertib seperti biasanya, kamu adalah anak bunda yang paling berarti dalam hidup bunda. Kamu adalah jempolan bunda, kamu kebanggaan bunda, kamu junior bunda sayang.”
“Terimakasih bunda, setiap pagi Sesa selalu mendapatkan kata-kata yang terindah dari bunda, membuat Sesa tambah semangat untuk bersekolah dan menuntut ilmu. Sesa sayang sekali kepada bunda. Tapi bunda, apa yang membuat bunda menangis?”
“Iya sayang, bunda juga sayang Sesa, sayang banget anaku. Bangun yuk, bunda ada hadiah buat kamu, tapi kamu harus mandi dulu, sarapan. Nanti, setelah Sesa siap berangkat sekolah, baru bunda tunjukan hadiah buat Sesa dan Sesa akan tahu mengapa bunda sampai menangis.”
Sesa pun dimandiin bunda, kemudian dipakaikan baju seragam dan bersiap untuk sarapan pagi. Selesai sarapan, masih ada waktu yang tersisa sebelum Sesa harus berangkat sekolah. Bunda memangku Sesa, Sesa pun riang gembira mendapat pangkuan dari bunda sebelum dia harus berangkat sekolah.
“Sayang, selamat ya sayang. Kamu berhasil anaku sayang.”
“Berhasil apa bunda? Berhasil membuat bunda menangis ya? Kenapa tadi bunda menagis? Kenapa bunda? Apa sesa ada salah sehingga membuat bunda menagis di pagi hari?”
“Tidak sayang, bukan itu. Selamat sayang, kamu mendapat juara umum lomba yang kamu ikuti seminggu yang lalu di Balai Kota. Alhamdulillah Kamu menjadi juara umum anaku. Bunda sangat bangga kepadamu.”
“Benar bunda? Sesa menang lomba menggambar kemarin? Alhamdulillah, Sesa senang sekali bunda. Yeee, horeee, Sesa menang, Sesa menjadi juara umum. Yes, hari ini Sesa akan kabarkan kepada ibu guru dan teman-teman Sesa, bahwa Sesa menang dan menjadi juara umum, pasti semuanya akan merasakan kebahagiaan yang bunda dan Sesa rasakan saat ini.”
“Iya sayang, pasti ibu-ibu guru dan semua teman-teman kamu sangat bahagia mendengarkan kabar yang akan kamu sampaikan nanti.”
“Sebentar ya sayang, kamu tunggu di sini dulu, bunda akan mengambilkan sesuatu buat kamu.”
“Ambil apa bunda? Uang jajan buat Sesa ya? Asyik-asyik pasti uang jajan Sesa akan dikasih lebih oleh bunda.”
Bunda pun masuk ke kamar mengambil hadiah yang mungkin akan sangat membuat Sesa terkejut bahagia.
“Nah, ini hadiah dari bunda buat Sesa sayang. Bukankah Sesa menginginkan baju ini?”
“Lhoh, baju merah muda lucu yang bunda jahit kemarin? Ini bukan untuk anak lain bunda? Ini untuk Sesa?”
“Iy sayang, ini memang special bunda buatkan untuk kamu. Bunda yakin bahwa kamu pasti akan menang, makanya bunda menyiapkan baju ini untuk kamu.”
“Horeee, Sesa dapat baju bagus dari bunda. Baju yang Sesa mau. Horeeee. Horeee. Horeee. Alhamdulillah, hari ini Sesa mendapatkan banyak kejutan dari bunda. Sesa senang sekali bunda. Alhamdulillah ya Allah, terima kasih untuk semua yang Allah berikan kepada bunda dan Sesa.”
“Ya sudah, sekarang waktunya Sesa berangkat sekolah. Yuk nak, bunda anter Sesa sekarang. Hari ini kan Sesa ada upacara rutin setiap hari Senin, jadi Sesa tidak boleh sampai terlambat.
“Siap bundaku sayang…”

Dino Namanya

Oleh: Fikri Yulaihah

Dino namanya. Salah seorang murid yang sukanya hanya bermain dan bermain. Dia adalah murid pemalas nomor dua di kelasnya. Kalau sedang pelajaran ia selalu mengajak teman sebangkunya bercerita. Boleh saja kalau yang diperbincangkan tentang pelajaran yang sedang dibahas di kelas, tetapi yang dia bahas adalah mengenai rencananya membolos sekolah hanya untuk bermain PS dekat pintu gerbang sekolahnya.
Baginya, bermain adalah dunianya, dan sekolah adalah beban yang hanya membuat bosan saja. Meski demikian, Dino termasuk anak yang cerdas di kelasnya. Sejak kelas I hingga kelas IV sekarang, ia selalu menjadi bintang kelas. Pembaca yang budiman, jangan dicontoh kelakuan si Dino yang tidak baik itu, dicontoh yang baik-baik aja ya teman-teman.
Ada satu lagi kebiasaan dari Dino. Pengen tahu nggak nih temen-temen??? Ternyata dia itu punya kebiasaan pura-pura tidak mendengar semua perkataan yang ada di sekitarnya. Maksudku, Dino suka pura-pura tuli gitu deh. Pernah waktu pelajaran Bahasa Indonesia, Bu guru sedang bercerita tentang Malin Kundang, dan semua anak mendengarkan cerita Bu guru dengan seksama. Tetapi tidak berlaku buat Dino, dia malah asyik tidur. Wah wah wah, anak yang satu ini sungguh aneh.
Ketika Bu guru sudah selesai bercerita, kemudian menawarkan kepada anak-anak siapa yang mau menceritakan kembali cerita itu di depan kelas. Karena hanya Dino yang tidak memperhatikan cerita, akhirnya Bu guru menyuruh dia maju di depan anak-anak untuk bercerita mengenai Malin Kundang.
“Ayo Dino maju. Dino… Dino… Dino,” panggil Bu guru sambil mendekat di bangku Dino.
Lama sekali Dino tidak menyahut, hingga Bu guru agak marah, “Muridku yang pandai, telinga itu gunanya untuk apa?”
“Untuk mendengarkan, kenapa bu guru tanya pertanyaan yang semua orang udah tahu Bu?”
“Nah itu Dino tahu. Kalau Dino punya telinga, tadi Bu guru bilang apa ke kamu Nak?”
“Baik bu, sekarang Dino mau bicara, tapi besok-besok lagi Dino gak mau lagi lho, Dino nggak mau mendengarkan cerita dari Bu guru, bagusan cerita kartun di tv yang Dino tonton, betul nggak temen-temen?”
“Betuuuulllllllll……………,” jawab murid-murid lainnya.
“Sudah sudah, yang penting sekarang Dino maju dulu.”
Meski demikian, Bu guru sebenarnya di dalam hati menggerutu, “Ada-ada saja muridku yang aneh seperti ini. Sebagai guru, saya harus lebih sabar.”
Lima menit telah berlalu. Dino mampu menceritakan setiap detail cerita yang Bu guru ceritakan. Setelah selesai bercerita di depan teman-temannya Dino berkomentar.
“Ngapain percaya sama cerita Malin Kundang. Menurut Aku, kalau semua anak durhaka dikutuk menjadi batu, berarti semua ibu jahat dong.”
“Kata ibu guru Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah. Wah, berarti ibu guru mengarang peribahasa sendiri ya? Hayooo ibu guru ketahuan bohongnya nih.”
****
Sudah satu minggu lebih Dino tidak masuk sekolah. Kelas jadi mendadak sepi, karena Dinolah yang suka gaduh dan jail di kelas itu. Teamn-temannya tidak ada yang tahu kenapa Dino tidak bisa masuk sekolah. Tidak terkecuali dengan guru-guru yang lainnya.
Minggu berikutnya datanglah seorang ibu mengantarkan surat ijin ke sekolah itu. Beliau adalah ibunya Dino. Isi surat itu menyatakan bahwa Dino sedang sakit dan dirawat di Rumah Sakit.
Setelah kedatangan surat ijin itu, Bu guru mengumumkan agar mereka semua menjenguk Dino di Rumah Sakit. Murid-murid pun setuju. Bagaimanapun nakalnya, Dino masih dianggap sebagai teman yang baik di mata teman-temannya.
“Dino sakit apa Bu?”, Tanya Bu guru kepada ibu Dino.
“Kata dokter, Dino mengalami gangguan THT (Telinga Hidung Tenggorokan). Ada kotoran di telinga Dino yang menjadikan Dino kesulitan mendengar.”
Salah satu temannya ada yang nyeletuk, “bu guru, itu karena Dino punya kebiasaan pura-pura tuli Bu.”. Mendengar kata-kata yang diucapkan Dani mendadak anak-anak seisi ruangan itu pun kompak tertawa ha... ha… ha …ha… ha… ha….
“Dani!! Jangan semabarangan ngomongnya.”
“Eits salah. Maaf Bu, tadi saya salah ngomong, hehehe.”
-The End-

DIVA NGGA MAU PUNYA ADIK…!

OLEH: Aulia Destinia Furri

“JDERR!!”, “Pokoknya Diva ngga mau punya adik”. Lagi-lagi kata-kata itu yang kudengar dari mulut adik kecilku Diva. Belum sempat aku mengucapkan salam dan masuk kedalam rumah, aku sudah disambut dengan teriakan dan tangisan diva yang membanting pintu kamarnya.
Adik kecilku itu memang baru berusia lima tahun, dan sulit baginya untuk membagi kasih sayang dari bunda dan ayah untuk adik baru kami nanti. Sekilas teringat lagi olehku saat diva lahir dan aku resmi menjadi kakak. Saat itu usiaku baru genap menginjak tujuh tahun, sama seperti diva, aku pun sempat merajuk dan mengunci diri di dalam kamar. Aku tidak mau membagi kasih sayang bunda dan ayah dengan adik baru nanti, ditambah lagi ejekan dari teman-teman yang mengatakan bahwa aku tidak akan disayang lagi jika adikku lahir kelak, dan kini aku amat mengerti apa yang ditakutkan oleh diva.
Perlahan kuketuk pintu kamarnya.
“siapa?”, perlahan terdengar suaranya, serak, pasti dia sedang menangis seperti biasanya batinku.
“ini kakak, boleh kakak masuk?”
“boleh”
Diva langsung memeluk tubuhku saat aku masuk. Dan seperti biasa kata –kata yang keluar adalah “Diva ngga mau punya adik, kak”. Dengan sabar aku menggendong tubuh mengilnya dan meletakannya kembali diranjang. Matanya terlihat bengkak, pemandangan yang selalu kulihat setiap hari selama sebulan terakhir ini. Awalnya bunda dan ayah belum memberitahukan hal ini pada diva, namun sejalan dengan waktu akhirnya diva pun tahu. Masih teringat dipikiranku kejadian sebulan yang lalu saat Diva bertanya dengan polosnya pada bunda
“kok perut bunda gede sih?, belum poop ya?”
“ahh..memang bunda kelihatan gendut yah?” jawab bunda.
Sejak itulah akhirnya Diva pun tau. Awalnya Diva tidak mempermasalahkan kedatangan adik baru ini, namun suatu hari saat pulang sekolah Diva menangis, teman-temannya mengejeknya, mengatakan hal yang sama persis dengan yang dikatakan teman-temanku dulu, bahwa Diva tidak akan disayang lagi jika adik baru itu lahir nanti. Bayangan-bayangan itu membuatku sedikit bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Diva, walaupun aku sepenuhnya juga belum mengerti tentang urusan orang dewasa.
“Diva ngga boleh sedih terus”, bujukku. “tadi di sekolah belajar apa?”
Seperti biasa Diva selalu antusias bila ditanya tentang kesehariannya disekolah. Dengan semangat ia mulai bercerita tentang temannya yang ngompol dikelas, dirinya yang slalu dapat bintang dalam pelajaran mewarnai dan menyanyi, tentang ibu gurunya yang cantik, bahkan satpam sekolahnya pun tidak luput menjadi objek celotehan mungilnya. Dan biasanya hal ini selalu berhasil untuk mengembalikan keceriaannya.
Sejalan dengan waktu, tangisan dan teriakan Diva pun semakin sering terdengar. Tak jarang malah dia tidak mau berangkat ke sekolah, takut diejek teman-teman katanya. Bila sudah begini, biasanya bunda hanya bisa menenangkan secukupnya, karena bunda sudah tidak bisa menggendong diva lagi.
“Bunda sayang diva, bentar lagi kan Diva jadi kakak seperti kak keyra, makanya Diva jangan nangis terus dong”.
Aku hanya bisa tertawa jika Diva sudah melancarkan aksi ngambeknya, sambil sesekali menggodanya dengan mengatakan malu jika adik lahir nanti dan tau kalau kakaknya cengeng.
Suatu hari ayah datang kesekolah. Aku heran karena waktu itu belum jam pulang sekolah dan tidak biasanya ayah menjemput. “Bunda dirumah sakit”, katanya. Dan aku harus pulang untuk menemani Diva dirumah. Kali ini ayah terlihat panik, tidak seperti saat bunda melahirkan Diva dulu. Aku pun ikut takut dan menangis dimobil sepanjang perjalanan pulang kerumah. Ayah mengatakan bahwa bunda harus dioperasi dan ayah harus mencari pendonor darah untuk bunda. Tidak semuanya dari perkataan ayah dapat kumengerti. Namun kata operasi sering kuterima dalam pelajaran Biologi disekolahku. Membelah tubuh dan darah akan banyak keluar. Terbayang olehku tubuh bunda yang terbaring di rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis.
Sesampainya dirumah aku langsung menemui Diva dikamarnya.
“Bunda dimana kak? bunda kenapa?. Diva janji ngga nakal lagi kalau bunda pulang”
Saat itu aku hanya bisa memeluknya sambil ikut menangis. Sulit untuk menceritakan semuanya pada Diva. Aku tidak mengerti dan aku yakin Diva pun akan lebih tidak mengerti dari aku. Satu kalimat yang keluar dari bibirku
“bunda dioperasi dik, kita berdoa sama-sama ya buat bunda”
“operasi itu apa kak?, diva takut kalau bunda pergi seperti ibunya mutia, nanti ngga ada yang gendong Diva lagi.
“Bunda ngga akan pergi kok, makanya sekarang kita berdoa buat bunda ya..”
Samar kudengar bunyi klakson mobil ayah didepan rumah, kami pun menghambur keluar. Ayah keluar dari mobil sambil menggendong Diva dan berkata “adiknya perempuan”. Sepintas kulihat rona merah diwajah ayah, rona yang aku yakini sebagai rona bahagia.
“siapa yang mau ikut lihat adik bayi?” ayah berkata
“akuuuu……” Diva menyahut dengan ceria dan bahagia, tidak tampak lagi raut penolakan dalam wajahnya. Kami langsung bergegas mengganti seragam sekolah dan naik ke mobil. Sepanjang jalan aku hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan-pertanyaan polos dari bibir Diva tentang adik barunya yang lucu, dan ayah hanya bisa menjawab seadanya sambil sesekali tersenyum.
Sesampainya dirumah sakit kami belum boleh melihat bunda. Kondisi bunda masi lemah kata Pak Dokter dan kami belum boleh mengganggunya. Tapi kami boleh melihat adik baru, walaupun hanya bisa mengaguminya dari luar, karena adik diletakan dalam ruangan kaca yang entah apa namanya.
“Diva senang?” aku mulai berkata.
“seneng banget..”
“ngga takut kalau nanti bunda ngga sayang Diva lagi?” aku mencoba mengusiknya dengan pertanyaan itu. Namun dengan yakin dan sambil memamerkan kedua lesung pipinya dia berkata
“kan bunda sayang semua, sayang dia, sayang kak keyra, dan sayang dik alya”
“dik alya?”
“iyaa, Diva suka nama, buat adik baru, namanya baguskan kak?”
“bagus.”
“alya”,seru kami berdua serempak lalu tertawa.